Sejarah Kerajinan Tembaga dan kuningan

Thu, 21 May 2020

Kerajinan tembaga dan kuningan di Tumang memiliki sejarah yang panjang. Berawal dari kerajinan yang berfokus pada alat rumah tangga sampai berkembang menjadi produsen penghasil produk Kerajinan Tembaga dan Kuningan yang sangat komplet.

Sekitar tahun 60'an, desa Tumang yang terletak di kaki gunung merbabu merupakan salah satu produsen kerajinan Tembagayang sangat terkenal. Pada waktu itu mayoritas masyarakat disana mengndalakan sektor kerjinan sebagai salah satu sumber mata pencaharianya di bandingkan dengan profesi petani mengingat letak geografisnya di kawasan pegunungan. Hal tersebut bisa dimaklumi karena masyarakat Tumang bisa memperloeh hasil yang instant begitu kerajinan selesai di kerjakan. Tumang sendiri meskipun hanya sebuah desa di kabupaten Boyolali, memiliki pasar tradisional yang sangat ramai. Pasar tersebut hanya di opersaikan ketika di waktu pagi dan sore hari yang kabnyakan pengunjungnya adalah perajin dan para tengkulak hasil kerajinan tembaga. Hasil kerajinan tembaga pada waktu itu lebih mengedpankan kepada alat alat kebutuhan rumah tangga, mulai dari dandang ( alat kukus), kenceng ( wajan besar), teko tembaga dan masih bnyak lagi. Hasil kerajinan tembaga pada waktu itu banyak sekali peminatnya, mayoritas pelangganya adalah masyarakat yang memang menggunakan hasil kerajinan sebagai alat kebutuhan sehari hari, meskipun ada beberapa pelanggan yang menggunakan sebagai hiasan rumah. Pada masa itu, para penikmat seni belum berkembang seperti sekarang ini, karena hampir smeua masyarakat pada umumnya masih mementingkan kebutuhan primer.

Masyarakat lebih memilih alat memasak dengan bahan tembaga dikarenakan bahan tembaga lebih awet, tahan korosi dan tentu saja ada unsur seni dari alat tersebut. Pada waktu itu kerajinan lainya yang memproduksi alat rumah tangga kebanyakan adalah dari tanah liat. Jiwa seni yang di dapatkan oleh masyarakat Tumang adalah murni turun temurun dari nenek moyang, sehingga hampir semua masyarakat bisa dengan mudah untuk mempelajari pembuatan kerajinan tembaga. Proses pembuatan Kerajinan tembaga pada waktu itu tergolong rumit dan cukup sulit, karena bahan baku yang di gunakan adalah dengan bongkahan (puthon) tembaga yang di tempa terus menerus sehingga mambentuk barang yang di inginkan. Karena pada saat itu bahan plat tembaga belum ada seperti sekrang ini. Mereka mengcor sendiri bongkahan tembaga dengan menggunakan tembaga bekas yang sudah tidak di gunakan, bahkan jual beli bahan seperti ini cukup ramai di pasar tradisional Tumang. Mendakati tahun 80'an, para perajin tembaga mulai memikirkan bahan lain untuk di gunakan sebagai bahan pengganti, hal ini disebabkan alat alat rumah tangga dari pabrik dengan bahan alumunium mulai menyeber luas di pasaran. Seaca otomatis membuat hasil kerajinan tembaga mulai tersaingi karena harga alat rumah tangga dari alumunium jelas lebih murah di banding tembaga. sebagian perajin tembaga pun mulai beralih dengan menggunakan bahan baku alumunium meskipun mayoritas masih tetap bertahan dengan bahan tembaga.

Hasil kerajinan tembaga


Para perajin tembaga yang tetap bertahan harus berusaha memutar otak agar supaya tetap bisa bertahan dan bersaing. Mereka mulai memikirkan bagaimana agar produk tembaga mereka dapat bersaiang dengan barang hasil pabrik. Salah satu pioner perajin dalam berusaha untuk bersaing adalah dengan membaca situasi pasar, salah satunya dengan membuat produk tembaga yang lebih menarik dan memliki nilai lebih di banding produk pabrik. Produk kerajinan tembaga di buat dengan menimbulkan kesan seni dan mulai berani untuk membuat produk yang inovatif. Sebagian kecil yang masih bertahan mulai membuat produk tembaga diluar kerjinan alat rumah tangga. Akhirnya pada dekade 90' an, para perajin mulai beralih dengan membuat berbagai macam kerajinan lampu hias, berbagai macam kerajinan kaligrafi dan juga produk produk yang coba untuk di tawarkan kepada para pelanggan. Ktika produk kerajinan lampu dan kaligrafi mulai di tawarkan dan di pasarkan, ternyata respon dari sebagian besar masyarakat sanat positi. Hal ini membuat para perajin tembaga mulai berani untuk keluar dari zona nyaman untuk mulai mencoba memasarkan ke area yang lebih luas. Permintaan hasil kerajinan tembaga pada akhirnya mulai berdatangan dan tentu saja membuat para perajin kewalahan menerima pesanan. Barang yang tadinya harus di pasarkan sendiri oleh perajin mulai beralih proses dengan pembeli yang mendatangi sendiri langsung kepada perajin dengan metode order pesanan.

Fenomena ini membuat perajin tembaga yang sebelumnya masih bertahan dengan produk yang lama sebagai pembuat alat rumah tangga pun mulai mengikuti untuk berubah menjadi perajin tembaga dengan fokus menjual seni kerajinan. Sampai akhir tahun 2000 sudah sangat banyak sekali perajin tembaga yang mencoba untuk membuat produk kerajinan tembaga dan mulai melebarkan sayap dengan menambah bahan pembuatan seperti dengan kuningan maupun alumunium. Pangsa pasar mereka pun sudah sangat diperhitungkan, ketika awalnya hanya menyasar pasara lokal sekitar saja, mereka mulai menwarkan ke seluruh wilayah indonsia bahkan tidak sedikit yang mulai mendapat order produk dari luar negeri. Melihat perkembangan kerajinan tembaga dan kuningan yang begitu pesat, produk yang mereka hasilkan pun mau tidak mau harus mulai lebih berfariasi. Para perajin tembaga dan kuningan mulai membuat produk yang lebih menitik beratkan pada knian seperti patung dan juga relief. Lampu yang menjadi awal perubahan pun juga semakin berkembang dengan sangat pesat dengan jumlah varisinya samapi hitungan ratusan jenis. Pemerintah yang melihat desa Tumang sebagai salah satu aset wilayah penghasil kerajinan yang dikenal baik lokal maupun international puan merespon dengan menjadikan Tumang sebagai desa wisata kawasan industri. Hal tersebut tentu saja membuat perkembangan kerajinan tembaga dan kuningan di tumang manjadi sngat pesat dan terkoordinir. Para perajin menjadi lebih mudah untuk menawarkan produknya dan merasa di perhatikan pemerintah. 

Produk kerajinan tembaga dan kuningan pun melebar sampai ke bidang bidang yang lebih komplek. Para perajin mulai berani menyasar sektor sektor yang dinilai memiliki prospek untuk di sasar sebagai pangsa pasar yang menjanjikan. Mulai produk chafing dish yang menysar wisata kuliner, pembuatan produk produk yang menyasar tempat tempat ibadah seperti lampu masjid, pintu masjid, kubah masjid dan juga ornamen masjid yang sangat menarik. Setiap ada peluang yang bisa dibuatkan produk tembaga dan kuningan selalu bisa di gunakan dengan baik oleh para perajin tembaga dan kuningan. Setelah milenium ke 2 berakhir, di barengi dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, para perajin seperti diberikan kemudahan yang lebih untuk memasrkan produk tembaga dan kuningan melalu jejaring media sosial. Sampai saat ini, perkembangan desa industro Tumang sudah sangat maju. Mulai banyak shworoom yang banyak didirikan di kawasan Tumang sebagai antisipasi ketika ada pendatang yang sengaja datang ke Tumang untuk sekdar mencari souvenir. Memang perkembangan kerjinan tembaga dan kuningan tidak selalu berjaln lancar, ada beberapa kendala yang mengganggu para perajin pada umumnya. Salah satunya adalah sebagian perajin kurang menguasai teknologi dengan baik, namun hal tersebut dapat di atasi oleh msyarakat Tumang. Mereka yang tidak menguasai pembuatan kerajinan dengan baik membuat media pemasaran melalu website dan sosial media lainya yang tentu saja mereka bekerja sama dengan para perajin yang tidak mnguasai medis sosial. Simbiois mutualisme yang baik ini membuat kerjinan tembaga dan kuningan di tumang tetap bisa bertahn dengan baik dari waktu ke waktu.

Kunjungan Presiden Jokowi ke Tumang

Produk Kerajinan Tembaga dan Kuningan

WA Kirim WA